Potensi Wisata Alam Curug di Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang (Studi Kasus Curug Gondoriyo Kota Semarang)

Redaksi
0

POTENSI WISATA ALAM CURUG DI KECAMATAN NGALIYAN KOTA SEMARANG
(Studi Kasus Curug Gondoriyo Kota Semarang)

Firatul Qonita1, Yuni Ashita Rani2, Rizqina Tahta Auliya3, Safira Fatihah Rizki4, Silviana Choirunnisa’5
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
qonitafira04@gmail.com, yniashtarani@gmail.com, rizqinatahtaauliyaauliya@gmail.com, safira30rizki@gmail.com, silvianachoirunnisa123@gmail.com.

 

ABSTRAK

Curug Gondoriyo, yang terletak di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, merupakan destinasi wisata alam baru dengan potensi besar untuk pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi wisataCurug Gondoriyo, dampaknya bagi masyarakat lokal, serta tantangan dan peluang pengembangannya. Dengan menggunakan metode kualitatif yang melibatkan wawancara, observasi, dan dokumentasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa Curug Gondoriyo memiliki daya tarik alam yang unik, fasilitas memadai, dan partisipasi aktif masyarakat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Dampak positif yang terlihat mencakup peningkatan pendapatan lokal dan solidaritas sosial. Namun, tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, promosi terbatas, dan ketergantungan pada musim masih perlu diatasi. Solusi berkelanjutan melalui promosi digital, penguatan ekowisata, dan kolaborasi antar pihak menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi Curug Gondoriyo sebagai destinasi wisata unggulan.

Kata Kunci: Curug Gondoriyo, pariwisata berbasis komunitas, pengembangan wisata, ekowisata, dampak sosial-ekonomi

ABSTRACT

Curug Gondoriyo, located in Ngaliyan District, Semarang City, is a new natural tourism destination with great potential for community-based tourism development. This study aims to analyze the tourism potential of Curug Gondoriyo, its impact on local communities, and the challenges and opportunities for its development. Using qualitative methods involving interviews, observations, and documentation, the results of the study indicate that Curug Gondoriyo has unique natural attractions, adequate facilities, and active community participation through the Tourism Awareness Group (Pokdarwis). The positive impacts that can be seen include increased local income and social solidarity. However, challenges such as limited infrastructure, limited promotion, and dependence on seasons still need to be overcome. Sustainable solutions through digital promotion, strengthening ecotourism, and collaboration between parties are the keys to maximizing the potential of Curug Gondoriyo as a leading tourist destination.

Keywords: Curug Gondoriyo, community-based tourism, tourism development, ecotourism, socio-economic impact

 

PENDAHULUAN

Indonesia memiliki masa depan yang cerah, dengan kekayaan alam yang melimpah, merupakan salah satu destinasi wisata terkemuka di dunia. Dari Sabang sampai Merauke, keindahan alam Indonesia, termasuk pegunungan, pantai, dan air terjun, menawarkan potensi besar untuk sektor wisata.

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam perekonomian di wilayah yang terdampak karena dianggap mampu memberikan peluang besar terhadap pendapatan dan ekonomi wilayah tersebut. Sektor pariwisata ini juga mendorong adanya peluang dari sektor lain untuk maju, seperti sektor jasa, hunian, tenaga kerja dan bahkan UMKM.

Pariwisata merupakan salah satu pemegang peranan kegiatan positif yang mampu menumbuhkan ekonomi dengan kurun waktu yang cepat, terutama dalam menyediakan peluang pekerjaan, mendorong Tingkat penghasilan, dan sebagai penggerak untuk berjalannya sektor-sektor lain. Pariwisata di Indonesia pada dasawarsa ini mulai menunjukkan perkembangan dan pertumbuhan menjadi sebuah industry yang mampu berdiri sendiri (Cahyani, 2021).

Adanya kegiatan pariwisata perlu didukung perkembangan dan pendayagunaannya secara optimal yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan daerah yang terdampak. Pengembangan pariwisata semakin dipandang sebagai alat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan ketahanan pangan (Richardson, 2014).

Curug Gondoriyo yang terletak di Dusun Karangjoho, Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah merupakan salah satu destinasi wisata alam baru yang berupa air terjun yang letaknya ada di Tengah pemukiman warga dengan kemudahan akses untuk menuju wisata tersebut. Tinggi dari Curug Gondoriyo ini mencapai kurang lebih 15 meter, dengan sumber air yang berasal dari Sungai BSB (Bukit Semarang Baru) dan mengalir menuju Sungai Beringin (Ribolzi, 2011).

Tujuan dari adanya penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi dari wisata yang ada di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang melalui Studi Kasus Curug Gondoriyo. Dalam artikel ini akan dipaparkan pembahasan mengenai potensi wisata Curug Gondoriyo dan pengelolaannya, peran PokDarWis dan partisipasi masyarakat, dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal. Disamping itu, artikel ini juga akan membahas tantangan dan upaya peluang pengembangan yang dapat dilakukan untuk mendorong potensi yang ada, sehingga wisata Curug Gondoriyo dapat menjadi wisata yang banyak diminati masyarakat lokal dan mancanegara.

LANDASAN TEORI

1.   Pariwisata

Pariwisata (tourism) adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaha, dalam, dan ilmu (Spillane, 1991).

Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009, Pariwisata memiliki pengertian yakni sebagai aktivitas melakukan perjalanan, baik yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok dengan tujuan untuk berekreasi, belajar keunikan yang ditawarkan oleh objek wisata atau sekedar mengembangkan diri.

Sedangkan menurut Kodhyat (1998, 4), pengertian Pariwisata adalah sebagai perjalanan dari satu tempat ke tempat yang lain. Baik dilakukan secara berkelompok maupun perorangan ataupun usaha, untuk kepentingan keseimbangan mental atau refreshing.

Jadi disimpulkan bahwa pariwisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh individua tau kelompok dari satu tempat ke tempat yang lain dengan tujuan untuk menghibur diri dan menikmati keindahan wisata tertentu.

2.   Pariwisata Alam

Menurut KBBI (kamus Besar Bahasa Indonesia) wisata adalah bepergian secara Bersama-sama untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, pengalaman, dan lain sebagainya.

Wisata alam merupakan suatu bentuk rekreasi dan pariwisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam dan ekosistemnya, baik dalam bentuk asli maupun setelah dipadukan dengan daya kreasi manusia. Wisata alam merupakan suatu kegiatan perjalanan atau Sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela dan sifatnya sementara untuk menikmati gejala keunikan alam di Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Taman Wisata Alam, Taman Buru, Hutan Lindung, dan Hutan Produksi (Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, 2012).

Jadi intinya wisata alam adalah aktivitas bersenang-senang sebagai kebutuhan tersier yang secara sukarela dilakukan, demi menikmati suguhan keindahan yang ada di alam.

3.   Teori Daya Tarik Wisata

Menurut Cooper pada (Permatasari, 2015), daya tarik pariwisata harus mempunyai empat komponen yaitu: Atraksi, Aksesibilitas, Fasilitas, dan Jasa Pendukung Pariwisata.

Spilanne (2002) menjabarkan bahwa daya Tarik ialah hal-hal yang menarik perhatian wisatawan yang dimiliki oleh suatu daerah tujuan wisata. Dalam Undang-undang No. 10 Tahun 2009, daya Tarik pariwisata didefinisikan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan.

Jadi didapat Kesimpulan bahwa daya Tarik wisata adalah sesuatu yang membuat seseorang merasa ingin mengenal lebih jauh, lebih dekat karena rasa ingin tahu dan minat untuk menjelajahinya.

4.   Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan

WCED mendefinisikan Pembangunan berkelanjutan sebagai Upaya Pembangunan yang berusaha memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka (Sutiarso, 2018).

Pariwisata berkelanjutan merupakan pariwisata yang berkembang sangat pesat, termasuk pertambahan arus kapasitas akomodasi, populasi local, dan lingkungan, dimana perkembangan pariwisata dan investasi- investasi baru dalam sektor pariwisata seharusnya tidak membawa dampak buruk dan dapat menyatu dengan lingkungan, jika memaksimalkan dampak yang positif dan meminimalkan dampak negative (I Nyoman Sukma Arida, 2017).

Pariwisata berkelanjutan berbasis lingkungan adalah melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, penerapan Tri Hita Karana, memastikan seluruh Pembangunan sesuai dengan peruntukannya sehingga mengurangi dampak negative terhadap lingkungan dan pemberdayaan komunitas local dalam mengembangan pariwisata.

Jadi pengembangan pariwisata pada intinya harus memperhatikan aspek berkelanjutan agar memberikan banyak manfaat dan berlaku untuk jangka Panjang bagi Masyarakat local dan melestasrikan lingkungan alam.

5.   Teori Promosi Pariwisata

Menurut Pitana dan Diarta (2009: 177) menyatakan bahwa “Promosi merupakan kegiatan komunikasi dimana organisasi penyelenggara pariwisata berusaha memengaruhi khalayak dari mana penjualan produknya bergantung”.

Strategi promosi terdiri dari bermacam-macam komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan informasi dan meyakinkan atau membujuk calon wisatawan yang potensial untuk melakukan perjalanan pariwisata (Yoeti, 2002: 169).

Hal ini menunjukkan bahwa promosi yang dilakukan secara efektif dapat meningkatkan minat wisatawan untuk mengunjungi destinasi tertentu.

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah dengan melakukan wawancara dengan salah satu anggota pengelola Curug Gondoriyo yang dibentuk dalam kelompok kecil dengan nama komunitas POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata), penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai Wisata Alam Curug Gondoriyo sebagai media untuk penelitian. Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang dilandaskan pada fenomenologi dan paradigma konstruktivisme dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Menurut Bogdan dan Taylor dalam (Nugrahani, 2008) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Penelitian kualitatif memiliki beberapa Teknik pengumpulan data yaitu Teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Ketiga Teknik pengambilan data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.   Observasi (Pengamatan)

Teknik observasi dilakukan guna mengamati perilaku dan aktivitas partisipan di lokasi penelitian. Dalam pengamatan tersebut, peneliti melakukan aktivitas pencatatan hal-hal yang diamati secara langsung. Aktivitas tersebut dapat dilakukan baik secara terstruktur maupun tidak terstruktur. Dalam kegiatan tersebut, peneliti dapat terlibat secara langsung, baik sebagai peserta maupun sebagai pengamat murni.

b.   Wawancara

Teknik wawancara merupakan Teknik penggalian informasi melalui percakapan secara langsung antara peneliti dengan partisipan. Perkembangan teknologi dan komunikasi telah memungkinkan wawancara dilakukan baik secara tatap muka maupun melalui telepon, zoom, whatsapp, dan lain-lain. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur dan tidak terstruktur dengan maksud menggali berbagai informasi seputar focus permasalahan dalam penelitian.

c.   Dokumentasi

Dokumentasi adalah Teknik pengumpulan informasi melalui pencarian bukti yang akurat sesuai focus masalah penelitian. Dokumentasi dalam penelitian kualitatif dapat berupa dokumen kebijakan, biografi, buku harian, surat kabar, majalah atau makalah.

Selain ketiga Teknik tersebut, dokumentasi dapat dilengkapi dengan rekaman, gambar, foto/lukisan.

Dalam hal ini, artikel di buat dengan memadukan ke-tiga Teknik pengumpulan data tersebut. Dengan melakukan wawancara kepada salah satu anggota komunitas pengelola Curug Gondoriyo (POKDARWIS) yakni kepada Ibu Maryatun dan disusul dengan observasi Curug Gondoriyo secara langsung lalu mengambil beberapa gambar sebagai bentuk bukti perwujudan lapangan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Potensi Wisata Curug Gondoriyo dan Pengelolaannya 

 

Curug Gondoriyo, yang terletak di Dusun Karangjoho, Kelurahan Gondoriyo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, merupakan salah satu destinasi wisata alam yang memiliki potensi besar. Air terjun setinggi 15meter ini berasal dari aliran Sungai Bukit Semarang Baru (BSB) yang mengalir menuju Sungai Beringin. ejak tahun 1980-an, masyarakat memanfaatkan sumber daya alam ini untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, mencuci, dan mengairi lahan pertanian. Keberadaan sungai dan air terjun yang bersih menjadikan kawasan ini tempat yang ideal untuk aktivitas komunitas lokal, terutama karena kualitas air yang jernih dan bebas limbah pada masa itu Potensi wisata Curug Gondoriyo mulai dikenal luas pada tahun 2018. Hal ini berawal dari aktivitas para pemancing yang sering memanfaatkan kawasan ini. Mereka mengambil foto keindahan air terjun dan sekitarnya, lalu mengunggahnya ke media sosial, khususnya Instagram. Unggahan tersebut menarik perhatian banyak orang, sehingga mulai banyak wisatawan lokal yang berkunjung untuk menikmati keindahan alam Curug Gondoriyo. Fenomena ini menunjukkan betapa pentingnya peran media sosial dalam memperkenalkan destinasi wisata baru, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan sektor pariwisata di daerah tersebut.

Menurut (Hermawan, 2016) perkembangan pariwisata secara tidak langsung mempengaruhi masyarakat sehingga menimbulkan berbagai dampak terhadap masyarakat setempat yang dapat bersifat positif maupun negatif. Dari segi masyarakat, pengembangan pariwisata memiliki potensi dan manfaat yang sangat besar baik dari segi ekonomi, sosial budaya maupun lingkungan. Melihat potensi tersebut, masyarakat setempat membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdarwis bertujuan untuk mengelola dan mengembangkan kawasan wisata secara mandiri, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, yang kemudian mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. Renovasi kawasan ini dilakukan dengan dana Rp 200 juta dari dinas, ditambah sumbangan masyarakat. Hal ini mencerminkan sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam memajukan sektor pariwisata berbasis komunitas. Renovasi yang meliputi penataan area, pembangunan gapura, dan perbaikan jalan setapak sepanjang 200meter merupakan langkah strategis untuk meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan pengunjung. alan setapak yang diperbaiki memudahkan wisatawan untuk mencapai air terjun dengan lebih aman, meskipun harus melewati medan yang cukup terjal.

Menurut (Spillane, 1994) ada lima unsur aspek pariwisata antaranya yaitu: Aktraksi, Fasilitas, Infrastruktur, Transportasi, dan Keramahan masyarakat. Curug Gondoriyo menawarkan keindahan alam yang asri dengan air terjun setinggi 15meter dan vegetasi hijau di sekitarnya. Daya tarik utama lainnya adalah Jembatan Mak Comblang, yang tidak hanya berfungsi sebagai penghubung Kelurahan Gondoriyo dengan Beringin, tetapi juga sebagai spot foto yang menarik. Keunikan ini selaras dengan konsep atraksi wisata yang mampu menarik minat wisatawan. Selain itu, fasilitas pendukung seperti warung makan, tempat istirahat, dan penerangan malam hari dengan 16 lampu warna-warni menambah kenyamanan dan daya tarik kawasan ini. Hal ini sesuai dengan teori (Spillane 1994) bahwa fasilitas memadai merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pengembangan destinasi wisata.

Peran Pokdarwis dan Partisipasi Masyarakat

Keberhasilan transformasi Curug Gondoriyo menjadi destinasi wisata tidak lepas dari peran aktif masyarakat setempat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Pokdarwis melibatkan berbagai elemen masyarakat, seperti ibu-ibu PKK, pemuda, dan tokoh masyarakat setempat, dalam pengelolaan dan pemeliharaan kawasan wisata. Menurut hasil wawancara dengan Ibu Maryatun, sekretaris Pokdarwis, masyarakat terlibat dalam berbagai aktivitas, seperti menjaga kebersihan lingkungan, menyediakan jasa parkir, dan membuka warung makan. Partisipasi aktif ini menunjukkan implementasi konsep Community-Based Tourism (CBT), di mana masyarakat menjadi aktor utama dalam pengelolaan wisata dan pelestarian lingkungan. Menurut (Richardson, 2014), CBT memberikan dampak positif tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga sosial, dengan meningkatkan kapasitas masyarakat dan menciptakan rasa memiliki terhadap destinasi wisata. Partisipasi aktif masyarakat menciptakan rasa memiliki terhadap destinasi wisata ini dan memberikan manfaat ekonomi langsung bagi warga sekitar. Banyak warga yang terlibat dalam aktivitas usaha kecil, seperti membuka warung makan dan menyediakan jasa parkir, yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan keluarga. Pendekatan ini juga mendukung prinsip pariwisata berkelanjutan, dalam pengelolaan destinasi wisata tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, kolaborasi ini memastikan bahwa Curug Gondoriyo tidak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan dan pelestarian bagi masyarakat setempat.

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan juga menciptakan peluang ekonomi baru. Banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani atau buruh harian kini memiliki penghasilan alternatif melalui usaha mikro, seperti warung makan dan penyewa lahan parkir. Hal ini mendukung teori (Spillane, 1994), yang menekankan bahwa pariwisata dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal, terutama melalui usaha kecil dan menengah. Selain itu, keterlibatan ibu-ibu PKK dan pemuda setempat dalam pengelolaan menciptakan solidaritas sosial dan meningkatkan keterampilan di bidang pariwisata, yang berkontribusi pada pembangunan sosial jangka panjang. Pendekatan berbasis komunitas ini mencerminkan konsep pariwisata berbasis komunitas (Community-Based Tourism/CBT), di mana masyarakat menjadi aktor utama dalam pengelolaan wisata dan pelestarian lingkungan.

Dampak Sosial dan Ekonomi bagi Masyarakat Lokal

Curug Gondoriyo telah memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat setempat, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Keberadaan destinasi wisata ini telah mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pariwisata berbasis komunitas. Sejak Curug Gondoriyo diresmikan sebagai destinasi wisata pada tahun 2019, banyak warga sekitar yang merasakan manfaat ekonomis secara langsung. Usaha mikro seperti warung makan, kios suvenir, dan jasa parkir berkembang pesat, memberikan sumber pendapatan tambahan bagi keluarga di sekitar kawasan wisata. Pendapatan dari aktivitas wisata ini tidak hanya terbatas pada sektor formal, tetapi juga sektor informal. Warga yang sebelumnya bekerja sebagai petani atau buruh harian kini dapat memanfaatkan peluang ekonomi baru yang ditawarkan oleh sektor pariwisata. Keberadaan warung makan dan layanan parkir yang dikelola warga lokal menjadi salah satu contoh nyata dari manfaat ekonomi tersebut.

Secara sosial, keberadaan Curug Gondoriyo telah mempererat hubungan antarwarga dan memperkuat identitas komunitas. Destinasi ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi bagi pengunjung dari luar daerah, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan lokal. Warga setempat terlibat dalam berbagai aktivitas sosial, seperti kerja bakti untuk menjaga kebersihan kawasan wisata dan partisipasi dalam kegiatan budaya yang digelar di sekitar curug. Pelibatan generasi muda dalam pengelolaan wisata membantu meningkatkan keterampilan mereka dan menciptakan peluang kerja baru, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembangunan sosial dan ekonomi di daerah tersebut.

Tantangan dan Peluang Pengembangan Curug Gondoriyo

Curug Gondoriyo menghadapi sejumlah tantangan dalam upaya pengembangannya sebagai destinasi wisata unggulan. Salah satu tantangan utama adalah ketergantungan pada jumlah pengunjung musiman. Sebagai destinasi wisata alam terbuka, kunjungan wisatawan sangat dipengaruhi oleh cuaca dan musim liburan. Pada musim hujan, akses menuju curug menjadi lebih sulit, sehingga menyebabkan menurunnya jumlah wisatawan. Kondisi ini berdampak pada pendapatan masyarakat setempat yang bergantung pada sektor pariwisata sebagai sumber penghasilan utama. Menurut (Richardson, 2014), ketergantungan pada pengunjung musiman merupakan tantangan umum dalam pariwisata berbasis alam, yang memerlukan strategi diversifikasi aktivitas wisata untuk menarik wisatawan sepanjang tahun. Selain itu, keterbatasan infrastruktur juga menjadi hambatan besar. Meskipun telah dilakukan perbaikan jalan setapak dan penambahan beberapa fasilitas, kondisi infrastruktur pendukung seperti area parkir, fasilitas toilet, dan tempat istirahat masih perlu ditingkatkan. (Nyoman Sukma Arida, 2017) menyatakan bahwa infrastruktur yang kurang memadai dapat menghambat pengembangan destinasi wisata berkelanjutan, terutama jika tidak diiringi dengan pengelolaan lingkungan yang baik. Pengelolaan sampah dan kebersihan kawasan juga masih menjadi perhatian, mengingat masih sedikitnya fasilitas pengelolaan limbah yang kemampuan dan kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Tantangan lain yang dihadapi adalah promosi yang masih terbatas. Saat ini, promosi Curug Gondoriyo sebagian besar dilakukan melalui media sosial dan rekomendasi dari mulut ke mulut. Meskipun efektif untuk menarik wisatawan lokal, promosi ini belum mampu menjangkau wisatawan dari luar daerah secara luas. (Diarta, 2009) menekankan pentingnya strategi promosi yang sistematis dan terintegrasi untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata. Selain itu, minimnya dukungan pemerintah dalam bentuk pendanaan berkelanjutan dan program pelatihan untuk masyarakat menjadi hambatan dalam pengembangan sumber daya manusia yang terlibat dalam pengelolaan pariwisata. Manajemen konflik kepentingan antarwarga juga menjadi tantangan sosial yang perlu diatasi. Tidak semua masyarakat merasakan manfaat langsung dari pariwisata, yang terkadang menimbulkan krisis sosial dan potensi konflik. (Spillane, 1994) menyatakan bahwa pariwisata berbasis komunitas dapat menghadapi tantangan sosial jika manfaatnya tidak didistribusikan secara merata di antara masyarakat.

Di sisi lain, Curug Gondoriyo memiliki berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan lebih lanjut. Salah satu peluang terbesar adalah pengembangan ekowisata. Dengan daya tarik alam yang masih asri, Curug Gondoriyo dapat dikembangkan sebagai destinasi ekowisata yang mendorong konservasi lingkungan dan edukasi wisatawan. Ekowisata tidak hanya meningkatkan kesadaran lingkungan tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi komunitas lokal tanpa merusak ekosistem. Selain itu, penguatan pariwisata berbasis komunitas (Community-Based Tourism/CBT) menjadi peluang besar untuk memastikan pengelolaan yang berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat setempat dalam seluruh aspek pengelolaan, pariwisata ini dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih merata. Pelatihan dan pendampingan bagi anggota Pokdarwis akan meningkatkan kapasitas mereka dalam mengelola destinasi wisata secara profesional. (Richardson, 2014) menekankan bahwa pelibatan komunitas lokal dalam pengelolaan wisata menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap kelestarian destinasi.

Peluang lain yang dapat dimanfaatkan adalah promosi digital yang lebih agresif. Kerja sama dengan platform digital dan influencer lokal dapat memperluas jangkauan promosi dan menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. (Diarta, 2009) menyatakan bahwa promosi digital yang efektif dapat meningkatkan visibilitas destinasi dan menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Selain itu, dukungan dari pemerintah dan sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dapat digunakan untuk pengembangan infrastruktur dan pelatihan masyarakat. Program CSR dapat membantu pembiayaan proyek- proyek seperti pengelolaan sampah, pembangunan fasilitas wisata, dan pelatihan bagi masyarakat lokal. (Nyoman Sukma Arida, 2017) menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam memastikan destinasi wisata.

Dengan mengatasi tantangan ini dan memanfaatkan peluang yang ada, Curug Gondoriyo memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata unggulan yang berkelanjutan. Melalui pengembangan ekowisata, promosi yang efektif, dan penguatan pariwisata berbasis komunitas, kawasan ini dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal dan lingkungan sekitar.

KESIMPULAN 

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Curug Gondoriyo, yang terletak di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi salah satu destinasi wisata alam unggulan yang berbasis pada keterlibatan komunitas lokal. Keindahan alam yang ditawarkan oleh Curug Gondoriyo, ditambah dengan kondisi alam yang masih alami dan menawan, menjadikannya sebagai daya tarik wisata yang unik. Selain itu, fasilitas yang memadai serta peran aktif masyarakat setempat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) turut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan perekonomian lokal serta memperkuat rasa solidaritas sosial di kalangan warga sekitar.

Namun, meskipun Curug Gondoriyo memiliki potensi yang menjanjikan, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi dalam pengembangan destinasi ini. Salah satu tantangan utama adalah terbatasnya infrastruktur yang ada, yang dapat menghambat aksesibilitas wisatawan ke lokasi tersebut. Selain itu, promosi yang masih terbatas dan ketergantungan pada musim juga menjadi hambatan yang harus diatasi, mengingat jumlah pengunjung cenderung berfluktuasi tergantung pada musim tertentu. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan potensi Curug Gondoriyo sebagai destinasi wisata yang unggul dan berkelanjutan, diperlukan strategi pengembangan yang lebih matang.

Solusi yang dapat diimplementasikan antara lain adalah penggunaan promosi digital secara lebih intensif untuk menarik perhatian wisatawan dari berbagai kalangan, baik lokal maupun nasional. Selain itu, penguatan ekowisata juga perlu diperhatikan, dengan fokus pada pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kolaborasi yang lebih erat antara berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, serta sektor swasta, juga sangat diperlukan untuk menciptakan sinergi dalam mengatasi tantangan yang ada, serta memastikan pengembangan wisata yang berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar. Dengan pendekatan yang holistik dan berkesinambungan, Curug Gondoriyo memiliki potensi untuk berkembang menjadi destinasi wisata alam yang tak hanya menarik, tetapi juga dapat memberikan dampak positif yang besar bagi perekonomian dan sosial masyarakat lokal di masa depan. 

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita, R. (2009). Membangun Desa Partisipastif. Yogyakarta: Graha Ilmu . Cooper, C. (2015). Teori Daya Tarik Wisata: Atraksi, Aksesibilitas, Fasilitas, dan Jasa Pendukung. Dalam Permatasari.

Diarta, I. G. (2009). Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.

Hermawan, A. S. (2016). Dampak Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran Terhadap Ekonomi Masyarakat Lokal.

Nyoman Sukma Arida, I. (2017). Pariwisata Berkelanjutan dan Konservasi Lingkungan. Bali: Udayana Pers.

Richardson, J. (2014). Pengembangan Pariwisata Berbasis Komunitas. Jurnal Pariwisata Berkelanjutan, 12(3), 45-56.

Spillane, J.  (1994).  Pariwisata  Indonesia,  Siasat  Ekonomi  dan Rekayasa. Yogyakarta.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).      

Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

Arida, I. N. S. (2017). Pariwisata Berkelanjutan. Bali: Sustain Press.

Pitana, I. G., & Diarta, I. N. (2009). Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset.

Yoeti, O. (2002). Dasar-Dasar Pariwisata. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Nugrahani,      F.         (2008). Metodologi     Penelitian       Kualitatif. Surakarta LPPM Universitas Muhammadiyah Surakarta.

***
Berkontribusi di EDUKASIA.ID

EDUKASIA.ID mengundang Anda untuk terlibat dalam jurnalisme warga dengan mengirimkan berita, artikel, atau video terkait pendidikan, isu sosial, dan perkembangan terbaru. Berikan perspektif dan suara Anda untuk membangun wawasan publik.

Kirim karya Anda melalui WhatsApp: 085640418181, Email: redaksi@edukasia.id

Youtube : EDUKASIA ID
Facebook: EDUKASIAID
Instagram: EDUKASIAID
Twitter: EDUKASIAID
Tiktok: EDUKASIAID
LinkedIn: EDUKASIAID

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top