Lima Alasan Santri Ngabdi di Pondok Pesantren

3428
BERBAGI
Khidmat Santri

Pernah sekolah di pesantren? Kalo jawabannya iya, tentu tahu apa itu “ngabdi dan pengabdian”. Istilah ngabdi memang sangat lekat dengan tradisi pesantren, terutama pondok pesantren berbasis modern.

Setelah mengenyam pendidikan selama empat atau enam tahun, santri pondok pesantren akan dihadapkan pada dua pilihan, antara melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi, atau mengabdi pada almamater.

Pada umumnya, santri yang telah tamat pondok, berlomba-lomba mencari perguruan tinggi dan jurusan favorit yang diinginkan, entah itu pendidikan, kimia, kedokteran, biologi dan lain sebagainya. Apalagi dengan keterbukaan informasi pada saat ini.

Sedangkan santri yang memilih untuk ngabdi terlebih dahulu sebelum kuliah, juga punya  alasan yang gak kalah keren. Pada kesempatan ini, mari kita bahas lima alasan santri siap dan mau ngabdi di Pondok Pesantren sebelum mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

1. Memperdalam Keilmuan yang Telah didapat di Pesantren

Kebanyakan orang beranggapan bahwa santri yang “ngabdi” akan kehilangan banyak waktu dan kesempatan untuk belajar, karena disibukkan dengan kegiatan kepesantrenan.

Hal seperti ini keliru, justru dengan “ngabdi” memberikan kesempatan yang lebih besar untuk belajar dan bertemu langsung dengan guru-guru yang selama ini hanya ditemui secara formal di dalam kelas. Seorang pengabdian dapat bertanya secara intens atau berdiskusi face to face tentang banyak hal, seperti materi yang selama ini belum dimengerti atau menambah wawasan baru yang belum diketahui sebelumnya. Kesempatan seperti ini jarang lho didapatkan oleh santri yang langsung melanjutkan pendidikannya di bangku perkuliahan.

2. Pengalaman Mengajar

“Experience is the best teacher”, yah… pengalaman adalah guru terbaik, begitu pepatah menyebutkan. Santri pengabdian secara otomatis akan diberikan amanah untuk mengajar dalam kegiatan belajar mengajar Pondok Pesantren. Pengalaman seperti ini bertujuan melatih santri pengabdi untuk menjadi guru profesional. Secara tidak langsung menjadi bekal untuk berani tampil di depan umum, berbicara di hadapan banyak orang, dan bisa menyampaikan materi-materi pelajaran.

3. Pemantapan  dan Persiapan Sebelum Kuliah

Entah itu bingung menentukan pilihan kampus, destinasi atau biaya kuliah,  hal tersebut terkadang menjadi kendala bagi santri yang baru saja lulus sekolah.

Dengan jalan pengabdian, bisa menjadi pilihan untuk menimbang dan memikirkan hal-hal tersebut. Masa pengabdian dapat dijadikan sebagai masa untuk berpikir dan melihat peluang pendidikan yang ingin diambil, seperti Universitas atau Jurusan yang diinginkan. Apakah sesuai dan cocok dengan kemampuan, keahlian atau hobi.

Rentang waktu pengabdian juga dapat dijadikan sebagai cara untuk menabung dan  mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk kuliah di tahun berikutnya. Siapa tahu dana persiapan kuliah yang dikumpulkan melebihi ekspektasi sebelumnya. Jadi tidak perlu meminta lagi kepada orang tua untuk kuliah. Keren kan…!!!

4. Meningkatkan Kedewasaan Diri

“Tua itu pasti, dewasa itu pilihan…!”. Kedewasaan akan tumbuh dan meningkat seiring dengan tuntutan dan tantangan seorang pengabdian untuk mengurus banyak hal, seperti mengajar, mengasuh dan kegiatan-kegiatan kepondokan lainnya. Jika sebelumnya ia adalah santri yang diurus dan diatur, kini ia yang harus mengurus dan mengatur santri yang banyak dengan berbagai macam watak dan prilaku.

Hal ini akan memberikan dampak positif untuk self development seseorang, terutama bagi kalian yang baru saja beranjak dewasa dan membutuhkan proses pematangan diri.

5. Mengharap Keberkahan

Memilih menjadi seorang pengabdi merupakan pilihan yang tidak mudah. Karena banyak hal yang harus dikorbankan, di antaranya adalah waktu, usia, dan kesempatan. Terlebih pengabdian dituntut untuk berdisiplin dan bekerja keras dalam mengurus urusan pendidikan dan pengasuhan santri. Namun dengan pengorbanan tersebut akan menumbuhkan rasa kepemilikan yang lebih terhadap almamater.

Pengabdian bukanlah “membuang umur” secara sia-sia, namun pengabdian adalah salah satu cara untuk berkhidmat dan memberikan manfaat. Pada akhirnya dari semua pengorbanan tersebut, diharapkan keberkahan dan keridhoan dari guru-guru sebagai bekal untuk mengarungi Universitas yang lebih besar di depan, yaitu Universitas Kehidupan. Toh kesuksesan tidak diukur dari cepat-lambatnya sekolah, jauh-dekatnya jarak kuliah, namun kesuksesan diukur dari bermanfaat atau tidaknya seseorang untuk orang lain.

Semoga tulisan ini bermanfaat, terutama bagi santri Pondok Pesantren yang mau lulus dan masih galau untuk menentukan pilihan. @mahendra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here