Mengenal Tipe Pesantren di Indonesia

38
BERBAGI
Santri Al-Kinanah Berdoa
Santri Al-Kinanah Berdoa

Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang masih menjadi pilihan utama bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Sebagai informasi, bahwa pondok pesantren di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang harus diketahui  oleh orang tua sebelum memasukkan anaknya ke pesantren (mondok), adapun ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Pesantren Tradisional

Pesantren tradisional sering disebut dengan istilah pesantren salaf. Secara substansial, pesantren model ini lebih menitikberatkan pada kajian-kajian terhadap kitab-kitab klasik yang hanya terbatas ilmu fiqh, akidah, tata bahasa Arab, akhlak, tasawuf, dan sebagainya. Karakteristik model pesantren ini memang bisa dilihat dari sistem pendidikannya, seperti terbatas pada kajian kitab kuning, bahtsul masail, identik dengan memakai kopiah, sarung, dan segala hal tradisional lainnya. Tak ayal, kultur dan paradigma santri dari segi pola berfikirnya terkesan klasik dan eksklusif.

Secara umum, pesantren tradisional memiliki beberapa ciri. Pertama, tidak memiliki manajemen dan administrasi modern, serta pengelolaan pesantren berpusat pada aturan yang dibuat Kiai. Kedua, terkait kuat dengan figur seorang Kiai sebagai tokoh sentral dari setiap kebijakan yang ada di pesantren. Ketiga, pola dan sistem pendidikan bersifat konvensional dan berpijak pada tradisi lama, pengajaran bersifat satu arah, serta santri hanya mendengarkan penjelasan Kiai. Keempat, bangunan asrama santri tidak tertata rapi, masih menggunakan bangunan kuno atau bangunan kayu.

  1. Pesantren Modern

Pesantren modern dikenal juga dengan istilah pesantren khalaf. Ciri khas dari pesantren modern ialah tidak terfokus pada kajian kitab kuning, tetapi juga mengikuti perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Pesantren model ini dalam wujud sistem pendidikannya sudah berbentuk kurikulum yang diorganisir dengan ragam perampingan terhadap nilai-nilai intrinsik kitab kuning tersebut sehingga bersifat ilmiah yang disertai dengan ilmu-ilmu umum.

Salah satu contoh model pesantren ialah Pesantren Modern Darussalam Gontor, Zaitun Solo, Darun Najah, dan Darur Rahman Jakarta, dan Al-Kinanah Jambi. Karakteristik dari model pesantren ini ialah menekan pada penguasaan bahasa asing, kurikulum berbasis modern, penekanan pada rasionalitas, orientasi masa depan, percaturan hidup yang semakin mengglobal dan penguasaan terhadap teknologi informasi dan komunikasi.

Pesantren modern setidaknya memiliki empat ciri penting. Pertama, memiliki manajemen dan administrasi modern yang sangat baik. Kedua, tidak terikat pada figur Kiai sebagai tokoh dan pimpinan sentral. Ketiga, pola dan sistem pendidikan yang digunakan modern dengan kurikulum tidak hanya bergantung pada ilmu agama, tetapi juga ilmu umum. Keempat, sarana dan prasarana bangunan lebih mapan, tertata rapi, permanen dan berpagar. Berbagai fasilitas pendidikan yang terdapat dalam pesantren modern menjadi salah satu keunggulan tersendiri yang bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

Kendati citi khas pesantren modern memiliki keunggulan dari segi perkembangan kurikulum dan sistem pendidikan yang dijalankan, namun masih terdapat beberapa kelemahan yang harus dibenahi dalam rangka mengembalikan khittah berdirinya pesantren. Pesantren modern sering kali hanya terfokus pada penguasaan bahasa asing dan pengembangan teknologi sehingga mengabaikan penguasaan tradisi kitab kuning yang sudah mendarah daging dalam sejarah peradaban pesantren sejak dulu sampai sekarang. Pengabaian terhadap penguasaan khazanah kitab klasik tentu menjadi ironi di tengah jebloknya nilai dan tradisi pesantren dalam menghadapi benturan global yang begitu masif menyerang lembaga pendidikan islam, termasuk pesantren.

  1. Pesantren Semi Modern

Pesantren semi modern merupakan perpaduan antara pesantren tradisional dan modern. Pesantren model ini bercirikan nilai-nilai tradisional yang masih kental dipegang teguh, Kiai masih menempati posisi sentral, dan norma kode etik pesantren masih tetap menjadi standar pola pengembangan pesantren. Tetapi, pesantren juga mengadopsi sitem pendidikan modern yang relevan dengan perkembangan zaman dan tantangan masa depan.

Selain pengajaran kitab kuning, model pesantren ini juga masih terus menerus mengembangkan nalar kritis dan keterampilan santri sehingga keberadaannya pun mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan berkiprah dalam pengembangan sosisal kemasyarakatan. Pesantren yang menerapkan model ini ialah Pesantren Annuquyah (Sumenep), Pesantren Tebuireng (Jombang), dan Pesantren Mathali’ul Falah (Kajen).

Sementara itu, ciri khas pesantren semi modern ialah adanya dua perpaduan antara keduanya memang terkesan tidak fokus, namun sesungguhnya model pesantren ini berupaya mencetak kader-kader santri yang tidak hanya menguasai ilmu agama. Penguasaan terhadap bahasa asing dan pengembangan teknologi modern juga menjadi penekanan yang sangat kuat demi tercapainya pengembangan keilmuan yang integratif. Di tengah arus modernisasi ini, keilmuan integratif menjadi sangat penting dalam menopang kematangan seorang santri agar potensi yang terpendam dapat tersalurkan dengan baik.

Beberapa model pendidikan pesantren tersebut tentunya menunjukkan karakter yang berbeda-beda. Namun, tujuan yang hendak dicapai sesungguhnya tidak jauh berbeda.  Apabila ditinjau dari aspek fungsional dari masing-masing model pendidikan pesantren, ternyata memiliki titik sentral yang membedakan antara satu dengan yang lain. Kendati demikian, perbedaan yang menonjol hanyalah terletak pada figur seorang Kiai yang begitu melekat dari masing-masing model pendidikan tersebut.

Perlu dipahami, model pendidikan pesantren yang berbeda satu sama yang lain, baik dari sistem pengajaran, kurikulum, penekanan figur Kiai, maupun fokus keilmuan, sesungguhnya akan memungkinkan kader-kader santri yang dihasilkan akan memiliki kemampuan yang beragam pula. Dengan begitu, model pendidikan pesantren yang beragam sesungguhnya menawarkan banyak pilihan bagi umat untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki secara maksimal.

Sumber : Muhammad Takdir, Modernisasi Kurikulum Pesantren, Yogyakarta, Diva Press ; 2018